Sastradaerahunhas’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Semiotika dan Linguistik oleh Gusnawaty

SEMIOTIKA DAN LINGUISTIK

1.  Semiotika

Istilah semiotika berasal dari bahasa Yunani “semeion” yang artinya ‘tanda’. Ada dua istilah yang dipakai untuk maksud yang sama: semiotika dan semiologi. Istilah semiologi banyak dipakai di Prancis karena memang pencetuasnya adalah Saussure, sedangkan istilah semiotika pada awalnya banyak dipakai oleh pengikut Peirce. Akan tetapi belakangan ini semiotika lebih banyak dipakai baik oleh pengikut Saussure maupun Peirce. Begitu pun dalam tugas ini, istilah semiotika yang akan digunakan. Karena tidak baik rasanya menggunakan dua istilah yang saling bergantian untuk maksud yang sama.Semiotika didefinisikan oleh Saussure (Sobur, 2004: 12) sebagai sebuah ilmu yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di tengah masyarakat, dan dengan demikian ilmu ini menjadi bagian dari psikologi sosial. Artinya, ilmu ini bermaksud memperlihatkan bagaimana terbentuknya tanda-tanda dan kaidah-kaidah yang mengaturnya. Di lain pihak, Peirce (Sobur, 2004: 13) membatasi semiotika sebagai “doktrin formal tentang tanda-tanda” Dengan demikian dasarnya adalah konsep tentang tanda-tanda:   objeknya bukan hanya bahasa dan sistem komunikasi yang sistematis tetapi seluruh isi dunia sejauh terkait dengan pikiran manusia – sehingga manusia dapat menjalin relasi dengan keadaan sekelilingnya. Walaupun Peirce memasukkan seluruh isi dunia sebagai tanda, tetapi beliau tidak mengingkari bahwa bahasa sebagai sistem tanda yang paling dasar. Sedang yang lainnya seperti gerak-gerik, bentuk pikiran, bentuk dan cara pakaian, cara berbicara: tinggi-rendahnya nada, karya cipta manusia, cara memandang suatu objek, pemilihan dan penolakan, dan lain sebagainya, dipandang sebagai sejenis kode yang tersusun dari tanda-tanda bermakna yang dikomunikasikan berdasarkan hubungan-hubungan.Tersirat dan tersurat pada definisi di atas, kedua ahli (Saussure dan Peirce) sepakat bahwa tanda itu terdiri atas teks dan konteks. Hanya saja Saussure lebih menekankan pada aspek komunikasi oleh karena itu lebih mengarah pada bahasa. Peirce, di lain pihak, perhatiannya lebih tersebar pada banyak hal.  

2.  Linguistik

Tanda-tanda  dalam linguistik dapat dilihat baik dari segi jenis teks maupun dari segi pemilihan kata dalam teks. Pemilihan kata, tercermin dalam untaian leksikal: pemakaian nomina, ajektiva, verba, adverb, dan konjungsi. Untaian leksikal tersebut tercermin dalam kata-kata, frasa-frasa, klausa-klausa dan atau kalimat-kalimat. Kemudian tanda-tanda juga dapat dilihat dari jenis teks yang dibangunnya: cerita (fiksi), menceritakan pengalaman (fakta), procedural, berita, penjelasan, exposition (membujuk, argumentasi).

Oleh karena bahasa terbangun dari kumpulan kata-kata. Kita sebaiknya dapat menganalisis dan menggambarkan pola-pola bahasa pada level-level yang berbeda. Halliday dalam buku An Introduction to Functional Grammar (1985 dan 1994) mendeskripsikan bahasa dalam istilah skala tingkatan (rank scale). Konsep ini sangat penting untuk pemahaman bagaimana sistem bahasa bekerja.

 

                                Clause complex

                                ClauseRank Scale             group of phrase                                Word                                Morpheme 

                                Clause complex                                ClauseRank Scale             group of phrase                                Word                                Morpheme 

Unit pada tiap tingkatan dibangun dari satu atau dua unit tingkatan di bawahnya. Tingkatan yang paling tinggi adalah klausa kompleks dan dibangun dari satu atau lebih dari satu klausa. Singkatnya perhatikan figure 1.2 berikut.

A clause complex                          consists of                     one or more clauses

A clause                                          consists of                     one or more groups or phrasesA group or phrase                         consists of                     one or more wordsA word                                            consists of                     one or more morphemes

Figure 1.2: Skala Tingkatan Bahasa Halliday (1985: 30-32) Butt at all. (2000:29) 

Pemilihan atas penggunaan sebuah unit dalam teks dapat dimaknai sebagai sebuah tanda yang signifikan. Misalnya bila seorang pelajar piawai mengkspresikan pikiran dan pengalamannya, itu sebuah tanda bahwa pelajar tersebut menguasai bahasa yang digunakannya. Dan bila terjadi sebaliknya, seorang guru bahasa misalnya dapat melihat tanda  tersebut sebagai peluang untuk mengisi sapnya pada pertemuan berikutnya.

1.  Fungsi Sebagai Azas Pokok Bahasa

 Sudah banyak ahli yang telah berpikir tentang fungsi bahasa dalam kehidupan ini, misalanya pengelompokan yang dilakukan oleh Malinowsiki (1923) yang berkaitan dengan kajiannya tentang situasi dan makna dalam konteks. Beliau mengelompokkan fungsi  bahasa  ke dalam dua bagian utama yaitu: pragmatik dan magis. Kelompok pragmatik dibagi lagi ke dalam kelompok aktif dan naratif.  Sedangkan pengelompokan fungsi bahasa yang dilakukan oleh psikolog Austria Karl Buhler (1934), mengelompokkan bahasa dari susut pandang perseorangan. Buhler membagi fungsi bahasa kedalam fungsi ekspresif, konatif, dan representasional. Fungsi ekspresif adalah bahasa yang mengarah pada diri sendiri, si pembicara; konatif, bahasa yang terarah pada lawan bicara; dan reprensetasional adalah bahasa yang terarah pada kenyataan lainnya; yaitu selain si pembicara dan lawan bicara.  Ahli lain yang terkenal Roman Jacobson (1960) menambahkan tiga fungsi lagi yaitu fungsi poetik, yang terarah pada pesannya; fungsi transaksional, yang mengarah pada sarananya; dan fungsi metalinguistik, yang terarah pada kodenyaatau lambangnya. Seorang pendidik Inggris, Britton  (1970) melihat bahasa dari sudut pandang pendidikan. Ia tertarik pada kemampuan menulis anak di sekolah dan mempunyai pandangan bahwa kemampuan menulis pertama-tama berkembang dalam tautan dengan fungsi ekspresif. Kemampuan ini kemudian dikembangkan ‘keluar’ kearah kemampuan menulis transaksional adalah bahasa yang menekankan peran pelibat, sementara dalam fungsinya sebagai poetik peran penulis lebih banyak dibandingkan dengan peran lain. Sehingga beliau membagi fungsi bahasa ke dalam transaksional, eksprsif, dan poetik. Desmond Morris (19976), kemudian, dalam  kajiannya tentang rumpun manusia berdasarkan tinjauan perilaku hewan, menghasilkan pengelompokkan lain mengenai fungsi bahasa, yaitu ‘information talking’(pertukaran keterangan); ‘mood talking’ (sama dengan fungsi ekspresif dari Buhler dan Britton); ‘ekplotary talking’ (ujaran untuk kepentingan ujaran: fungsi estetis, fungsi drama’; dan ‘grooming talking’ (tuturan sopan, oleh Malinowski disebut sebagai phatic communication) (Halliday dan Ruqaiya Hasan, 1992: 21-22).Belakangan, Halliday (1985, 1994) meninjau bahwa apa yang dilakukan para ahli tersebut di atas melihat bahasa dari luarnya, dan memakainya sebagai kisi untuk menafsirkan berbagai cara orang menggunakan bahasa. Halliday berpendapat bahwa fungsi bahasa bukan sebagai variasi dalam penggunaan semata tetapi fungsi bahasa tersebut merupakan sesuatu yang built in dalam bahasa itu sendiri, khususnya dalam organisasi sistem makna. Oleh karena itu, pemakaian bahasa menurut Halliday sangat terpengaruh oleh ketiga hal (konteks) yang sudah disebutkan di atas (Field, Tenor, dan Mode), di mana hal tersebut sangat mempengaruhi dalam pemilihan kosakata. Dengan kata lain, ketiga parameter situasi konteks mempengaruhi pemilihan bahasa secara tepat sebab mereka merefleksikan tiga fungsi utama bahasa, karena bahasa dibangun untuk tiga tujuan utama, yakni:Ø  Untuk membicarakan apa yang sedang terjadi, yang akan terjadi, dan yang telah terjadiØ  Untuk berinteraksi dan atau untuk mengekspresikan gagasanØ  Untuk menghasilkan kedua fungsi di atas dalam suatu koherensi yang menyeluruhHalliday yang memperkenalkan fungsional sistemik grammar dan menulisnya dalam An Introduction to Functional Grammar (1985;1994) menyebut ketiga fungsi utama ini sebagai metafungsi ideasional, interpersonal, dan tekstual. Metafungsi ideasional menggunakan bahasa untuk mengekspresikan pengalaman. Ada dua hal yang terkait dengan representasi ini: makna eksperiential yang mengkodekan pengalaman dan makna logis memperlihatkan hubungan-hubungan atau keterkaitan unsur berdasarkan nalar (logika) seperti hubungan Subjek-Predikator-Komplemen, induk-pewatas, dan hubungan-hubungan yang tertuang dalam kelompok kata yang dikenal sebagai konjungsi.  Metafungsi interpersonal menggunakan bahasa untuk mengkodekan interaksi, memperlihatkan bagaimana sikap bertahan, kita mengusulkan, mengkodekan tentang kewajiban dan kecenderungan dan mengekspresikan sikap-sikap kita. Metafungsi tekstual menggunakan bahasa untuk mengorganisasikan pengalaman-pengalaman, makna-makna logis dan interpersonal ke dalam suatu koherensi dalam hal bahasa tutur dan tulisan, lurus menyeluruh. Adalah hal yang penting pada pembelajaran bahasa bahwa kata-kata yang kita gunakan, dan cara kita membawakannya, atau secara lebih teknis kodekan, adalah makna-makna. Dalam pendekatan semiotika sosial, pembelajaran bahasa masing-masing kalimat mengkodekan bukan hanya satu tetapi tiga makna secara simultan, dan ketiga makna-makna tersebut berhubungan dengan perbedaan fungsi dasar bahasa, konteks situasi. 

2.  Pengaruh Konteks

Pada awal-awal kehidupan, kemungkinan sejak kita berumur tiga tahun, kita menjadi sadar bahwa bahasa di sekeliling kita tidak selalu sama tetapi senantiasa berubah menyesuaikan diri dengan kondisinya. Seperti kita mendengar orang berbicara, memperbincangkan tentang keadaan yang terjadi atau berinteraksi dengan orang lain, kita memperhatikan bahwa bahasa mereka berubah sesuai dengan topik pembicaraan dan dengan siapa mereka bercakap. Begitu pengalaman kita semakin bertambah, kita mungkin menyadari bahwa bahasa tutur berbeda secara halus dengan bahasa tulis, walaupun ada variasi antara bahasa tutur dan bahasa tulis. Manakala kita memperhatikan bagaimana perubahan terjadi dan alasan perubahannya, kita berbicara tentang pandangan fungsi  bahasa dan dalam hal ini kita semua melakukan fungsional linguistik.Sebagai penutur dewasa, kita memiliki kemampuan yang baik untuk menggunakan bahasa pada waktu-waktu yang berbeda dan tujuan yang berbeda. Kita sadar, walau hanya di alam bawah kesadaran, bahwa pemilihan kata dalam bahasa dipengaruhi oleh aspek-aspek tertentu dari konteks di mana hal itu digunakan. Kita tahu bahwa bahasa yang digunakan dalam kuliah tidak akan cocok bila digunakan dalam surat cinta, dan bahasa dalam permainan kartu tidak sama dengan bahasa yang digunakan dalam iklan makanan. Perbedaan ini dibangun atas akumulasi kesadaran terhadap perbedaan-perbedaan situasi dan pemilihan bahasa yang dibuat di antara mereka.Begitu pula, sering di bawah kesadaran pengetahuan. Kita biasanya dapat mengerti konteks bahasa yang kita dengar atau baca, serta dapat mengklasifikasikannya dengan baik; Ciri-ciri khusus, sebagai contoh, antara peringatan umum, teguran halus, atau teguran keras (kita dapat membedakannya). Kemampuan untuk membedakan dan mengklasifikasikan pengalaman bahasa muncul sebab kita memiliki pengalaman bagaimana bahasa digunakan dalam konteks yang berbeda serta kita mengenal dan berbicara bahasa yang baik dan benar ketika situasi timbul dan konteks muncul kembali.Pada umumnya orang tidak berpikir dalam-dalam tentang perbedaan bahasa yang mereka gunakan. Kemungkinan besar karena mereka telah menyimpan spesifik bahasanya  dalam tempat khusus-konteks yang terpisah. Bagaimanapun juga, para ahli bahasa yang berpandangan fungsional terhadap bahasa secara total tertarik pada apa yang membuat sepotong bahasa berbeda dari yang lainnya. Makalah ini berusaha menyediakan secara umum sebuah dasar filosofis sebagai alat analisis tatabahasa yang menggunakan penyelidikan Tatabahasa Fungsional  dalam artian bagaimana sistem tanda berlaku dalam kehidupan sosial (semiotika sosial). Analisis tatabahasa digunakan dalam arti bahwa kita akan berhadapan dengan tiap-tiap unsur dalam bahasa dengan penggambaran bagaimana hal tersebut berfungsi. Sebagai pembaca, Anda akan membawa pengalaman kebahasaan Anda pada tulisan ini; Kita telah memiliki latihan formal dalam tatabahasa lain. Harapan Halliday, Anda sependapat dengan beliau bahwa Tatabahasa Fungsional bukanlah seperangkat aturan tetapi seperangkat sumber untuk menggambarkan, menginterpretasikan, dan membuat makna dari tanda-tanda yang diperolehnya.. Menjadi orang yang mampu melihat hubungan antara pemilihan ketaksadaran berbahasa masing-masing di antara kita membuat seluruh waktu dan kekompleksan kehidupan sosial  yang kita jalani menjadi pengalaman kebahasaan yang paling menggairahkan bagi guru dan murid.

a.   Teks dalam konteks

Sesuatu yang baik untuk memulai adalah dengan mengatakan secara lebih tepat apa sesungguhnya yang dimaksud dengan TEKS oleh ahli linguistik fungsional. Sebuah teks adalah sepotong bahasa dalam penggunaan; itulah bahasa yang berfungsi (Halliday dan Hasan, 1985). Panjang teks tidaklah penting dan hal itu bisa berbentuk tuturan atau tulisan. Apa yang penting adalah bahwa sebuah teks adalah sekumpulan makna yang harmoni dengan konteks. Kesatuan tujuan membuat teks menampilkan tekstur dan struktur. Tekstur dapat dilihat dari cara makna dalam teks sesuai secara koheren satu sama lainnya – kurang lebih sama dengan benang-benang dari sepotong kain atau karpet yang terjalin bersama secara keseluruhan. Struktur merujuk kepada cara bahwa pada umumnya potongan-potongan bahasa dalam penggunaan akan mengandung unsur-unsur struktur wajib tertentu yang sesuai dengan tujuan dan konteks.Sebenarnya, sebuah teks sering muncul dalam dua konteks, satu dalam yang lain. Hal ini digambarkan dalam figure 1.3. Bagian luar konteks sekeliling sebuah teks dikenal sebagai KONTEKS KEBUDAYAAN. Ketika Anda berpikir perbedaan bentuk-bentuk sapaan dalam sebuah acara yang memerlukan kesopanan dan aktifitas tersebut penting antara satu budaya dengan budaya lain, Anda memperoleh pikiran pentingnya konteks budaya dalam membentuk makna. Konteks budaya kadang-kadang digambarkan sebagai keseluruhan makna yang memungkinkan bermakna  dalam budaya tertentu.Dalam konteks kebudayaan, penutur dan penulis menggunakan bahasa dalam banyak konteks atau situasi khusus. Masing-masing dari bahasa-bahasa ini berada dalam konteks, dalam linguistik fungsional menyebutnya sebagai KONTEKS SITUASI.  Kombinasi antara konteks kebudayaan dan konteks situasi melahirkan perbedaan dan persamaan antara sepotong bahasa dengan bahasa lainnya. Teks tutur dalam jualan sayur di sebuah pulau, misalnya, akan berbeda dengan teks jualan di Supermarket, dan konteks budaya dan konteks situasi berperan dalam perbedaan tersebut. Barter dan tawar-menawar perdagangan di sebuah pasar tidak akan terjadi dalam budaya supermarket. Dan perbedaan budaya akan mempengaruhi aspek konteks situasi pembelian.

Teks

Konteks Situasi
Konteks Budaya
Figure 1.3. Teks dalam konteks

 Konteks situasi adalah istilah yang cocok untuk menjelaskan segala sesuatu yang terjadi di dunia di luar teks dan yang membuat teks seperti apa adanya. Inilah ciri-ciri ekstralinguistik dari sebuah teks yang telah memberikan isi dalam kata-kata dan pola-pola gramatikal yang membuat penutur dan penulis mengunakan secara sadar atau tidak sadar dalam membangun teks dari variasi-variasi yang berbeda, dan yang membuat pendengar mereka dapat mengklasifikasaikan dan menginterpretasikan. Walaupun pada awalnya kelihatan aneh, tetapi perbedaan situasi antara teks hanya disebabkan oleh tiga aspek konteks. Linguis Sistemik Fungsional merujuk kepada ketiga aspek atau parameter. Konteks  situasi tersebut disebut FIELD, TENOR, dan MODE Teks. Hal tersebut direpresentasikan dalam Figure 1.4.

Teks

Situasi Konteks
tenor
Figure 1.4: Parameter situasi konteks

fieldmode

b.   Field, Tenor, dan Mode

Istilah field, tenor dan mode dapat didefinisikan sebagai berikut.Field:         Masalah yang akan dibicarakan atau ditulis; tujuan panjang dan pendek dari teks;Tenor:       Hubungan antara pembicara dan pendengar ( atau, tentu saja, antara penulis dan pendengar);Mode:       Jenis teks yang dibuatJika Anda berpikir tentang parameter situasi konteks tersebut maka Anda akan menyadari bahwa hanya satu dari ketiga hal tersebut membuat teks secara substansi berbeda. Bayangkan  perbedaan antara sebuah surat lamaran kerja dengan surat kepada seorang teman tentang harapan Anda memperoleh pekerjaan, kemudian bandingkan surat tersebut dengan percakapan dengan topik yang sama yang Anda lakukan dengan teman yang sama. Ketiga teks tersebut tentang lamaran kerja (field) dan dua di antaranya dibuat dalam bentuk sebuah surat (mode). Apa yang membedakan antara kedua surat tersebut adalah perbedaan dalam hubungan antara penulis dan pembaca (tenor) (Butt, at all., 2000). —————-


 

 

DAFTAR BUKU BACAAN

Bloor, T. & M. Bloor.  1995. The Functional Analysis of English (A Hallidayan Approach). London, Arnold.

Butt, D. 1990. Ways into Systemic Functional Grammar.  Literacy Technologies Pty Ltd. Australia.

Butt, D., R. Fahey, S. Feez, S. Spinks & C. Yallop . 2000 . Using Functional Grammar: An Explorer’s Guide .  Sydney : National Centre for English Language and Teaching Research (NCELTR).

Derewianka, B. 1990. Exploring How Texts Work.  Sydney: Primary English Teaching Association.

Fairclough, Norman. 1992. Discourse and Sosial Change. Dalam Linguistik Indonesia, Tahun ke 24 (1) 2006.

Foley, J. 2003. Grammar in Discourse: How we represent our experience of the world. Singapore: RELC

————. 2003. Grammar in Discourse: How we use language to interact. Singapore: RELC

————-.  2003. Grammar in Discourse: How we shape our meaning into text. Singapore: RELC

Gerot, L. & P.Wignell. 1994. Making Sense of Functional  Grammar . Gerd Stabler, Antipodean Educational  Enterprises, Cammeray NSW 2062.

Gusnawaty, 2004. Text Analysis: Using Functional Analysis. Singapura: RELC (unpublished). 

Halliday, M.A.K. 1985. An Introduction to Functional Grammar: 1nd Edition. London, Arnold

——————. and Ruqiyah Hasan, 1985. Language, Text, and Context: Aspects of Language in Social-Semiotic Perspective, DEakin Univ. Press. Victoria.

——————-. 1994. An Introduction to Functional Grammar: 2nd Edition. London, Arnold.

Lukmana, Iwa E. dkk. 2006. Makna Interpersonal dalam Interaksi Guru-Murid: Sebuah Kajian Wacana Kritis. Linguistik Indonesia, Tahun ke 24 (1) 2006.

Joia, A. & A. Stenton. 1980. Terms in Systemic Linguistics : A Guide to Halliday. Batsford Academic and Education Ltd, London.

Martin, J.R., C. Matthiessen & C. Painter . 1997. Working with Functional Grammar.  London, Arnold.

Morley, G. D. 1985. An Introduction to Systemic Grammar.  Macmillan Publishers Ltd. , London and Basingstoke.

Santoso, Riyadi. 2003. Semiotika Sosial: Pandangan Terhadap Bahasa. Surabaya: Pustaka Eureka dan JP Press.

Sutjaja, I Gusti Made. 1990. “Perkembangan Teori M.A.K. Halliday” dalam PELLBA 3. Hal 59-85

Sobur, Alex. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tou, Barori Asruddin, 1992. Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspek-aspek bahasa dalam pandangan semiotik sosial. Diterjemahkan oleh Asruddin Barori Tou. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press.

Van Dick, Teun A. 1993. “Principles of Critical Discourse Analysis.” Linguistik Indonesia, Tahun ke 24 (1) 2006.

 

About these ads

February 21, 2008 - Posted by | Bahasa

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: