Sastradaerahunhas’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Semiotika dan Linguistik oleh Gusnawaty

SEMIOTIKA DAN LINGUISTIK

1.  Semiotika

Istilah semiotika berasal dari bahasa Yunani “semeion” yang artinya ‘tanda’. Ada dua istilah yang dipakai untuk maksud yang sama: semiotika dan semiologi. Istilah semiologi banyak dipakai di Prancis karena memang pencetuasnya adalah Saussure, sedangkan istilah semiotika pada awalnya banyak dipakai oleh pengikut Peirce. Akan tetapi belakangan ini semiotika lebih banyak dipakai baik oleh pengikut Saussure maupun Peirce. Begitu pun dalam tugas ini, istilah semiotika yang akan digunakan. Karena tidak baik rasanya menggunakan dua istilah yang saling bergantian untuk maksud yang sama.Semiotika didefinisikan oleh Saussure (Sobur, 2004: 12) sebagai sebuah ilmu yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di tengah masyarakat, dan dengan demikian ilmu ini menjadi bagian dari psikologi sosial. Artinya, ilmu ini bermaksud memperlihatkan bagaimana terbentuknya tanda-tanda dan kaidah-kaidah yang mengaturnya. Di lain pihak, Peirce (Sobur, 2004: 13) membatasi semiotika sebagai “doktrin formal tentang tanda-tanda” Dengan demikian dasarnya adalah konsep tentang tanda-tanda:   objeknya bukan hanya bahasa dan sistem komunikasi yang sistematis tetapi seluruh isi dunia sejauh terkait dengan pikiran manusia – sehingga manusia dapat menjalin relasi dengan keadaan sekelilingnya. Walaupun Peirce memasukkan seluruh isi dunia sebagai tanda, tetapi beliau tidak mengingkari bahwa bahasa sebagai sistem tanda yang paling dasar. Sedang yang lainnya seperti gerak-gerik, bentuk pikiran, bentuk dan cara pakaian, cara berbicara: tinggi-rendahnya nada, karya cipta manusia, cara memandang suatu objek, pemilihan dan penolakan, dan lain sebagainya, dipandang sebagai sejenis kode yang tersusun dari tanda-tanda bermakna yang dikomunikasikan berdasarkan hubungan-hubungan.Tersirat dan tersurat pada definisi di atas, kedua ahli (Saussure dan Peirce) sepakat bahwa tanda itu terdiri atas teks dan konteks. Hanya saja Saussure lebih menekankan pada aspek komunikasi oleh karena itu lebih mengarah pada bahasa. Peirce, di lain pihak, perhatiannya lebih tersebar pada banyak hal.  

2.  Linguistik

Tanda-tanda  dalam linguistik dapat dilihat baik dari segi jenis teks maupun dari segi pemilihan kata dalam teks. Pemilihan kata, tercermin dalam untaian leksikal: pemakaian nomina, ajektiva, verba, adverb, dan konjungsi. Untaian leksikal tersebut tercermin dalam kata-kata, frasa-frasa, klausa-klausa dan atau kalimat-kalimat. Kemudian tanda-tanda juga dapat dilihat dari jenis teks yang dibangunnya: cerita (fiksi), menceritakan pengalaman (fakta), procedural, berita, penjelasan, exposition (membujuk, argumentasi).

Oleh karena bahasa terbangun dari kumpulan kata-kata. Kita sebaiknya dapat menganalisis dan menggambarkan pola-pola bahasa pada level-level yang berbeda. Halliday dalam buku An Introduction to Functional Grammar (1985 dan 1994) mendeskripsikan bahasa dalam istilah skala tingkatan (rank scale). Konsep ini sangat penting untuk pemahaman bagaimana sistem bahasa bekerja.

 

                                Clause complex

                                ClauseRank Scale             group of phrase                                Word                                Morpheme 

                                Clause complex                                ClauseRank Scale             group of phrase                                Word                                Morpheme 

Unit pada tiap tingkatan dibangun dari satu atau dua unit tingkatan di bawahnya. Tingkatan yang paling tinggi adalah klausa kompleks dan dibangun dari satu atau lebih dari satu klausa. Singkatnya perhatikan figure 1.2 berikut.

A clause complex                          consists of                     one or more clauses

A clause                                          consists of                     one or more groups or phrasesA group or phrase                         consists of                     one or more wordsA word                                            consists of                     one or more morphemes

Figure 1.2: Skala Tingkatan Bahasa Halliday (1985: 30-32) Butt at all. (2000:29) 

Pemilihan atas penggunaan sebuah unit dalam teks dapat dimaknai sebagai sebuah tanda yang signifikan. Misalnya bila seorang pelajar piawai mengkspresikan pikiran dan pengalamannya, itu sebuah tanda bahwa pelajar tersebut menguasai bahasa yang digunakannya. Dan bila terjadi sebaliknya, seorang guru bahasa misalnya dapat melihat tanda  tersebut sebagai peluang untuk mengisi sapnya pada pertemuan berikutnya.

1.  Fungsi Sebagai Azas Pokok Bahasa

 Sudah banyak ahli yang telah berpikir tentang fungsi bahasa dalam kehidupan ini, misalanya pengelompokan yang dilakukan oleh Malinowsiki (1923) yang berkaitan dengan kajiannya tentang situasi dan makna dalam konteks. Beliau mengelompokkan fungsi  bahasa  ke dalam dua bagian utama yaitu: pragmatik dan magis. Kelompok pragmatik dibagi lagi ke dalam kelompok aktif dan naratif.  Sedangkan pengelompokan fungsi bahasa yang dilakukan oleh psikolog Austria Karl Buhler (1934), mengelompokkan bahasa dari susut pandang perseorangan. Buhler membagi fungsi bahasa kedalam fungsi ekspresif, konatif, dan representasional. Fungsi ekspresif adalah bahasa yang mengarah pada diri sendiri, si pembicara; konatif, bahasa yang terarah pada lawan bicara; dan reprensetasional adalah bahasa yang terarah pada kenyataan lainnya; yaitu selain si pembicara dan lawan bicara.  Ahli lain yang terkenal Roman Jacobson (1960) menambahkan tiga fungsi lagi yaitu fungsi poetik, yang terarah pada pesannya; fungsi transaksional, yang mengarah pada sarananya; dan fungsi metalinguistik, yang terarah pada kodenyaatau lambangnya. Seorang pendidik Inggris, Britton  (1970) melihat bahasa dari sudut pandang pendidikan. Ia tertarik pada kemampuan menulis anak di sekolah dan mempunyai pandangan bahwa kemampuan menulis pertama-tama berkembang dalam tautan dengan fungsi ekspresif. Kemampuan ini kemudian dikembangkan ‘keluar’ kearah kemampuan menulis transaksional adalah bahasa yang menekankan peran pelibat, sementara dalam fungsinya sebagai poetik peran penulis lebih banyak dibandingkan dengan peran lain. Sehingga beliau membagi fungsi bahasa ke dalam transaksional, eksprsif, dan poetik. Desmond Morris (19976), kemudian, dalam  kajiannya tentang rumpun manusia berdasarkan tinjauan perilaku hewan, menghasilkan pengelompokkan lain mengenai fungsi bahasa, yaitu ‘information talking’(pertukaran keterangan); ‘mood talking’ (sama dengan fungsi ekspresif dari Buhler dan Britton); ‘ekplotary talking’ (ujaran untuk kepentingan ujaran: fungsi estetis, fungsi drama’; dan ‘grooming talking’ (tuturan sopan, oleh Malinowski disebut sebagai phatic communication) (Halliday dan Ruqaiya Hasan, 1992: 21-22).Belakangan, Halliday (1985, 1994) meninjau bahwa apa yang dilakukan para ahli tersebut di atas melihat bahasa dari luarnya, dan memakainya sebagai kisi untuk menafsirkan berbagai cara orang menggunakan bahasa. Halliday berpendapat bahwa fungsi bahasa bukan sebagai variasi dalam penggunaan semata tetapi fungsi bahasa tersebut merupakan sesuatu yang built in dalam bahasa itu sendiri, khususnya dalam organisasi sistem makna. Oleh karena itu, pemakaian bahasa menurut Halliday sangat terpengaruh oleh ketiga hal (konteks) yang sudah disebutkan di atas (Field, Tenor, dan Mode), di mana hal tersebut sangat mempengaruhi dalam pemilihan kosakata. Dengan kata lain, ketiga parameter situasi konteks mempengaruhi pemilihan bahasa secara tepat sebab mereka merefleksikan tiga fungsi utama bahasa, karena bahasa dibangun untuk tiga tujuan utama, yakni:Ø  Untuk membicarakan apa yang sedang terjadi, yang akan terjadi, dan yang telah terjadiØ  Untuk berinteraksi dan atau untuk mengekspresikan gagasanØ  Untuk menghasilkan kedua fungsi di atas dalam suatu koherensi yang menyeluruhHalliday yang memperkenalkan fungsional sistemik grammar dan menulisnya dalam An Introduction to Functional Grammar (1985;1994) menyebut ketiga fungsi utama ini sebagai metafungsi ideasional, interpersonal, dan tekstual. Metafungsi ideasional menggunakan bahasa untuk mengekspresikan pengalaman. Ada dua hal yang terkait dengan representasi ini: makna eksperiential yang mengkodekan pengalaman dan makna logis memperlihatkan hubungan-hubungan atau keterkaitan unsur berdasarkan nalar (logika) seperti hubungan Subjek-Predikator-Komplemen, induk-pewatas, dan hubungan-hubungan yang tertuang dalam kelompok kata yang dikenal sebagai konjungsi.  Metafungsi interpersonal menggunakan bahasa untuk mengkodekan interaksi, memperlihatkan bagaimana sikap bertahan, kita mengusulkan, mengkodekan tentang kewajiban dan kecenderungan dan mengekspresikan sikap-sikap kita. Metafungsi tekstual menggunakan bahasa untuk mengorganisasikan pengalaman-pengalaman, makna-makna logis dan interpersonal ke dalam suatu koherensi dalam hal bahasa tutur dan tulisan, lurus menyeluruh. Adalah hal yang penting pada pembelajaran bahasa bahwa kata-kata yang kita gunakan, dan cara kita membawakannya, atau secara lebih teknis kodekan, adalah makna-makna. Dalam pendekatan semiotika sosial, pembelajaran bahasa masing-masing kalimat mengkodekan bukan hanya satu tetapi tiga makna secara simultan, dan ketiga makna-makna tersebut berhubungan dengan perbedaan fungsi dasar bahasa, konteks situasi. 

2.  Pengaruh Konteks

Pada awal-awal kehidupan, kemungkinan sejak kita berumur tiga tahun, kita menjadi sadar bahwa bahasa di sekeliling kita tidak selalu sama tetapi senantiasa berubah menyesuaikan diri dengan kondisinya. Seperti kita mendengar orang berbicara, memperbincangkan tentang keadaan yang terjadi atau berinteraksi dengan orang lain, kita memperhatikan bahwa bahasa mereka berubah sesuai dengan topik pembicaraan dan dengan siapa mereka bercakap. Begitu pengalaman kita semakin bertambah, kita mungkin menyadari bahwa bahasa tutur berbeda secara halus dengan bahasa tulis, walaupun ada variasi antara bahasa tutur dan bahasa tulis. Manakala kita memperhatikan bagaimana perubahan terjadi dan alasan perubahannya, kita berbicara tentang pandangan fungsi  bahasa dan dalam hal ini kita semua melakukan fungsional linguistik.Sebagai penutur dewasa, kita memiliki kemampuan yang baik untuk menggunakan bahasa pada waktu-waktu yang berbeda dan tujuan yang berbeda. Kita sadar, walau hanya di alam bawah kesadaran, bahwa pemilihan kata dalam bahasa dipengaruhi oleh aspek-aspek tertentu dari konteks di mana hal itu digunakan. Kita tahu bahwa bahasa yang digunakan dalam kuliah tidak akan cocok bila digunakan dalam surat cinta, dan bahasa dalam permainan kartu tidak sama dengan bahasa yang digunakan dalam iklan makanan. Perbedaan ini dibangun atas akumulasi kesadaran terhadap perbedaan-perbedaan situasi dan pemilihan bahasa yang dibuat di antara mereka.Begitu pula, sering di bawah kesadaran pengetahuan. Kita biasanya dapat mengerti konteks bahasa yang kita dengar atau baca, serta dapat mengklasifikasikannya dengan baik; Ciri-ciri khusus, sebagai contoh, antara peringatan umum, teguran halus, atau teguran keras (kita dapat membedakannya). Kemampuan untuk membedakan dan mengklasifikasikan pengalaman bahasa muncul sebab kita memiliki pengalaman bagaimana bahasa digunakan dalam konteks yang berbeda serta kita mengenal dan berbicara bahasa yang baik dan benar ketika situasi timbul dan konteks muncul kembali.Pada umumnya orang tidak berpikir dalam-dalam tentang perbedaan bahasa yang mereka gunakan. Kemungkinan besar karena mereka telah menyimpan spesifik bahasanya  dalam tempat khusus-konteks yang terpisah. Bagaimanapun juga, para ahli bahasa yang berpandangan fungsional terhadap bahasa secara total tertarik pada apa yang membuat sepotong bahasa berbeda dari yang lainnya. Makalah ini berusaha menyediakan secara umum sebuah dasar filosofis sebagai alat analisis tatabahasa yang menggunakan penyelidikan Tatabahasa Fungsional  dalam artian bagaimana sistem tanda berlaku dalam kehidupan sosial (semiotika sosial). Analisis tatabahasa digunakan dalam arti bahwa kita akan berhadapan dengan tiap-tiap unsur dalam bahasa dengan penggambaran bagaimana hal tersebut berfungsi. Sebagai pembaca, Anda akan membawa pengalaman kebahasaan Anda pada tulisan ini; Kita telah memiliki latihan formal dalam tatabahasa lain. Harapan Halliday, Anda sependapat dengan beliau bahwa Tatabahasa Fungsional bukanlah seperangkat aturan tetapi seperangkat sumber untuk menggambarkan, menginterpretasikan, dan membuat makna dari tanda-tanda yang diperolehnya.. Menjadi orang yang mampu melihat hubungan antara pemilihan ketaksadaran berbahasa masing-masing di antara kita membuat seluruh waktu dan kekompleksan kehidupan sosial  yang kita jalani menjadi pengalaman kebahasaan yang paling menggairahkan bagi guru dan murid.

a.   Teks dalam konteks

Sesuatu yang baik untuk memulai adalah dengan mengatakan secara lebih tepat apa sesungguhnya yang dimaksud dengan TEKS oleh ahli linguistik fungsional. Sebuah teks adalah sepotong bahasa dalam penggunaan; itulah bahasa yang berfungsi (Halliday dan Hasan, 1985). Panjang teks tidaklah penting dan hal itu bisa berbentuk tuturan atau tulisan. Apa yang penting adalah bahwa sebuah teks adalah sekumpulan makna yang harmoni dengan konteks. Kesatuan tujuan membuat teks menampilkan tekstur dan struktur. Tekstur dapat dilihat dari cara makna dalam teks sesuai secara koheren satu sama lainnya – kurang lebih sama dengan benang-benang dari sepotong kain atau karpet yang terjalin bersama secara keseluruhan. Struktur merujuk kepada cara bahwa pada umumnya potongan-potongan bahasa dalam penggunaan akan mengandung unsur-unsur struktur wajib tertentu yang sesuai dengan tujuan dan konteks.Sebenarnya, sebuah teks sering muncul dalam dua konteks, satu dalam yang lain. Hal ini digambarkan dalam figure 1.3. Bagian luar konteks sekeliling sebuah teks dikenal sebagai KONTEKS KEBUDAYAAN. Ketika Anda berpikir perbedaan bentuk-bentuk sapaan dalam sebuah acara yang memerlukan kesopanan dan aktifitas tersebut penting antara satu budaya dengan budaya lain, Anda memperoleh pikiran pentingnya konteks budaya dalam membentuk makna. Konteks budaya kadang-kadang digambarkan sebagai keseluruhan makna yang memungkinkan bermakna  dalam budaya tertentu.Dalam konteks kebudayaan, penutur dan penulis menggunakan bahasa dalam banyak konteks atau situasi khusus. Masing-masing dari bahasa-bahasa ini berada dalam konteks, dalam linguistik fungsional menyebutnya sebagai KONTEKS SITUASI.  Kombinasi antara konteks kebudayaan dan konteks situasi melahirkan perbedaan dan persamaan antara sepotong bahasa dengan bahasa lainnya. Teks tutur dalam jualan sayur di sebuah pulau, misalnya, akan berbeda dengan teks jualan di Supermarket, dan konteks budaya dan konteks situasi berperan dalam perbedaan tersebut. Barter dan tawar-menawar perdagangan di sebuah pasar tidak akan terjadi dalam budaya supermarket. Dan perbedaan budaya akan mempengaruhi aspek konteks situasi pembelian.

Teks

Konteks Situasi
Konteks Budaya
Figure 1.3. Teks dalam konteks

 Konteks situasi adalah istilah yang cocok untuk menjelaskan segala sesuatu yang terjadi di dunia di luar teks dan yang membuat teks seperti apa adanya. Inilah ciri-ciri ekstralinguistik dari sebuah teks yang telah memberikan isi dalam kata-kata dan pola-pola gramatikal yang membuat penutur dan penulis mengunakan secara sadar atau tidak sadar dalam membangun teks dari variasi-variasi yang berbeda, dan yang membuat pendengar mereka dapat mengklasifikasaikan dan menginterpretasikan. Walaupun pada awalnya kelihatan aneh, tetapi perbedaan situasi antara teks hanya disebabkan oleh tiga aspek konteks. Linguis Sistemik Fungsional merujuk kepada ketiga aspek atau parameter. Konteks  situasi tersebut disebut FIELD, TENOR, dan MODE Teks. Hal tersebut direpresentasikan dalam Figure 1.4.

Teks

Situasi Konteks
tenor
Figure 1.4: Parameter situasi konteks

fieldmode

b.   Field, Tenor, dan Mode

Istilah field, tenor dan mode dapat didefinisikan sebagai berikut.Field:         Masalah yang akan dibicarakan atau ditulis; tujuan panjang dan pendek dari teks;Tenor:       Hubungan antara pembicara dan pendengar ( atau, tentu saja, antara penulis dan pendengar);Mode:       Jenis teks yang dibuatJika Anda berpikir tentang parameter situasi konteks tersebut maka Anda akan menyadari bahwa hanya satu dari ketiga hal tersebut membuat teks secara substansi berbeda. Bayangkan  perbedaan antara sebuah surat lamaran kerja dengan surat kepada seorang teman tentang harapan Anda memperoleh pekerjaan, kemudian bandingkan surat tersebut dengan percakapan dengan topik yang sama yang Anda lakukan dengan teman yang sama. Ketiga teks tersebut tentang lamaran kerja (field) dan dua di antaranya dibuat dalam bentuk sebuah surat (mode). Apa yang membedakan antara kedua surat tersebut adalah perbedaan dalam hubungan antara penulis dan pembaca (tenor) (Butt, at all., 2000). —————-


 

 

DAFTAR BUKU BACAAN

Bloor, T. & M. Bloor.  1995. The Functional Analysis of English (A Hallidayan Approach). London, Arnold.

Butt, D. 1990. Ways into Systemic Functional Grammar.  Literacy Technologies Pty Ltd. Australia.

Butt, D., R. Fahey, S. Feez, S. Spinks & C. Yallop . 2000 . Using Functional Grammar: An Explorer’s Guide .  Sydney : National Centre for English Language and Teaching Research (NCELTR).

Derewianka, B. 1990. Exploring How Texts Work.  Sydney: Primary English Teaching Association.

Fairclough, Norman. 1992. Discourse and Sosial Change. Dalam Linguistik Indonesia, Tahun ke 24 (1) 2006.

Foley, J. 2003. Grammar in Discourse: How we represent our experience of the world. Singapore: RELC

————. 2003. Grammar in Discourse: How we use language to interact. Singapore: RELC

————-.  2003. Grammar in Discourse: How we shape our meaning into text. Singapore: RELC

Gerot, L. & P.Wignell. 1994. Making Sense of Functional  Grammar . Gerd Stabler, Antipodean Educational  Enterprises, Cammeray NSW 2062.

Gusnawaty, 2004. Text Analysis: Using Functional Analysis. Singapura: RELC (unpublished). 

Halliday, M.A.K. 1985. An Introduction to Functional Grammar: 1nd Edition. London, Arnold

——————. and Ruqiyah Hasan, 1985. Language, Text, and Context: Aspects of Language in Social-Semiotic Perspective, DEakin Univ. Press. Victoria.

——————-. 1994. An Introduction to Functional Grammar: 2nd Edition. London, Arnold.

Lukmana, Iwa E. dkk. 2006. Makna Interpersonal dalam Interaksi Guru-Murid: Sebuah Kajian Wacana Kritis. Linguistik Indonesia, Tahun ke 24 (1) 2006.

Joia, A. & A. Stenton. 1980. Terms in Systemic Linguistics : A Guide to Halliday. Batsford Academic and Education Ltd, London.

Martin, J.R., C. Matthiessen & C. Painter . 1997. Working with Functional Grammar.  London, Arnold.

Morley, G. D. 1985. An Introduction to Systemic Grammar.  Macmillan Publishers Ltd. , London and Basingstoke.

Santoso, Riyadi. 2003. Semiotika Sosial: Pandangan Terhadap Bahasa. Surabaya: Pustaka Eureka dan JP Press.

Sutjaja, I Gusti Made. 1990. “Perkembangan Teori M.A.K. Halliday” dalam PELLBA 3. Hal 59-85

Sobur, Alex. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tou, Barori Asruddin, 1992. Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspek-aspek bahasa dalam pandangan semiotik sosial. Diterjemahkan oleh Asruddin Barori Tou. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press.

Van Dick, Teun A. 1993. “Principles of Critical Discourse Analysis.” Linguistik Indonesia, Tahun ke 24 (1) 2006.

 

February 21, 2008 Posted by | Bahasa | Leave a comment

Aspek-aspek Budaya Dalam Komunikasi Bahasa « Sastradaerahunhas’s Weblog

Aspek-aspek Budaya Dalam Komunikasi Bahasa « Sastradaerahunhas’s Weblog

February 21, 2008 Posted by | Bahasa | Leave a comment

Filsafat Bahasa, oleh Gusnawaty Sastra Daerah UNHAS, Makassar Indonesia

 

  1. Hubungan antara Filsafat dan Bahasa.

 Filsafat adalah suatu cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Oleh karena sifat filsafat yang demikian maka filsafat sering diidentikkan dengan sesuatu yang membingungkan. Kadang kita mendengarkan orang mengatakan “Jawaban yang Anda ajukan benar-benar filosofis dan mengandung kedalaman arti, sehingga saya tidak memahami sedikit pun apa yang Anda maksud”Pitcher dalam buku “The Philosophy of Wittgenstein” halaman 193, mengibaratkan filosofis yang terlibat dalam upaya pemecahan masalah-masalah fundamental sebagai “seseorang yang terperangkap dalam kekacauan filsafati tak ubahnya dengan orang yang terjebak dalam sebuah ruangan, ia ingin keluar dari sana tapi tidak tahu bagaimana caranya. Dicobanya keluar melalui jendela tapi itu terlalu tinggi. Dicobanya pula keluar melalui cerobong tapi terlalu sempit” (Mustansyir, 1988: 11).Persoalan yang tak ada habisnya dalam dunia filsafat membuat para filosofis mencari akar permasalahan. Dalam memandang masalah, mereka, menganggap bahwa akar masalah sebenarnya terletak pada bahasa. Beberapa filsuf seperti Carnap, Russel, dan Leibniz berpendapat bahwa kebenaran tidak dapat dapat dideskripsikan dengan benar karena kelemahan ada pada bahasa. Bahasa tidak dapat mejelaskan sesuatu secara tepat dan akurat. Seperti kata keadilan, apa itu keadilan? Bagaimana mengukur keadilan?; Kata cantik misalnya, apa itu cantik?  Model yang bagaimana yang disebut cantik? Apa parameternya. Bagaimana mengukurnya. Dan lain sebagainya. Bahasa tidak cukup memadai dalam mengungkapkan maksud-maksud filsafat (inadequate). Sebab bahasa mengandung kekaburan (vagueness), tidak jelas (inexplictness), berdwiarti (ambiguity), terikat konteks (contex-dependence), dan menyesatkan (misleading). Keompok filosofis lain seperti Wittgenstein dan Locke justru berpendapat sebaliknya, mereka menganggap bahwa yang membuat sesuatu rumit dan selalu membingungkan karena para filosofis keliru dalam merumuskan persoalan. Dengan kata lain, kelemahan ada pada pemakai bahasa.  Berdasarkan hal tersebut maka lahirlah Filsafat Analitik. Para yang filosofis yang menaruh minat dalam bahasa digerakkan oleh keinginian mereka untuk memahami ilmu pengetahuan konseptual. Mereka, dalam mempelajari bahasa, bukan sebagai tujuan akhir melainkan sebagai objek sementara agar pada akhirnya dapat diperoleh kejelasan tentang hakikat pengetahuan konseptual.

  1. Cabang filsafat yang erat hubungannya dengan bahasa

Menyadari bahwa bahasa dan pengetahuan kebahasaan sebagai kunci dalam membuka tabir kegelapan, maka dalam filsafat lahirlah cabang yang khusus memperhatikan masalah kebahasaan  yakni: metafisika, logika, dan epistemologi.Ø  Metafisika. Kata metafisika berasal dari bahasa Yunani: ta meta ta Physika yang artinya, dibelakang atau dibalik atau sesudah sesuatu yang bersifat fisik. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh Andronicus, orang yang bertugas mengumpulkan karya tulis Aristoteles pada tahun 70 SM. Pelopor cabang filsafat ini adalah Plato dan Aristoteles. Metafisika didefinisikan sebagai sesuatu bagian filsafat yang secara garis besar mencoba merumuskan  fakta-fakta yang paling umum dan luas tentang dunia, termasuk penyebutan kategori  yang paling dasar sehingga entitas dan penggambaran interrelasi di antara mereka juga termasuk. Aristoteles berkata, bila seseorang bertanya apa yang dimaksud dengan kata-kata ‘berjalan’, dan ‘duduk’, itu menunjukkan bahwa hal itu memang ada. Kata-kata tersebut tak sanggup mendukung dirinya sendiri. Mereka membutuhkan substansi atau individual. Beliau berpendapat bahwa kata kerja digunakan dalam hubungannya dengan subjek. Jadi ‘ia sedang duduk’ atau ‘dia berjalan’ yang benar, tidak boleh langsung kata ‘duduk’ atau ‘berjalan’ saja. Berdasarkan temuan tersebut, Aristoteles berpendapat bahwa benda memiliki keberadaan lebih bebas dibanding kata kerja, karena kita menggunakan kata kerja dalam hubungannya dengan subjek.Ada hal yang menarik dari Wittgenstein, menurutnya metafisika melampaui batas-batas bahasa. Metafisika mengatakan apa yang tidak dapat dikatakan. Namun ada memang ha-hal yang tidak dapat dikatakan seperti hal-hal yang bersifat mistis dan sesuatu yang melampaui batas-batas bahasa seperti subjek, kematian, Allah, dan bahasa sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan upaya-upaya secara analitik melalui bahasa untuk membuat eksplisit tentang pertanyaan-pertanyaan metafisis tersebut White (1987 dalam Kaelan, 1998: 11). Kemudian dalam buku tersebut dijelaskan pula bahwa tentang konsep Aristoteles yang 10 kategori yang meliputi substansia dan 9 aksidensia, tergantung dan terlekat pada substansi yang meliputi:                                                              i.      Kuantitas (unsur fisis meliputi luas, bentuk dan berat)                                                            ii.      Kualitas (sifat-sifat yang dapat ditangkap dengan indera)                                                          iii.      Aksi (yang menyangkut perubahan, dinamika)                                                          iv.      Passi (penerimaan perubahan yang dikaitkan dengan benda lainnnya)                                                            v.      Relasi (hubungan dengan sesuatu yang lainnya)                                                          vi.      Tempat (segala sesuatu mengambil ruangan)                                                        vii.      Waktu (segala sesuatu berada dalam waktu tertentu)                                                      viii.      Keadaan, ( sesuatu berada pada tempatnya) dan                                                          ix.      Kedudukan (sesuatu berada disamping yang lainnya)Ø  Epistemologi. Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal-usul, struktur, metode-metode, dan keabsaham ilmu pengetahuan. Ruang lingkup definisi ini menunjukkan bahwa bidang ini berkenaan dengan cara-cara memperoleh ilmu pengetahuan. Ada 2 golongan filsuf dalam hal metode memperoleh ilmu pengetahuan: a) golongan yang pertama percaya bahwa ilmu itu diperoleh berdasarkan pengamatan atas pengalaman. Kelompok ini disebut kelompok empirisme, dan mendasarkan diri pada metode induktif, dan b) golongan kedua yang percaya penuh pada kemampuan akal atau rasio sebagai satu-satunya sarana dan yang paling memadai dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Kelompok ini lebih mendasarkan diri pada metode deduktif – bertitiktolak dari pengertian yang bersifat umum untuk memperoleh pengetahuan khusus. Cabang filsafat ini yang berkaitan dengan bahasa  terutama dalam hal pengetahuan apriori: yakni pengetahuan yang diperoleh atas dasar dugaan semata tanpa didukung pengalaman. Misalnya 2x 2 = 4. Anak kecil yang sudah diajari perkalian dasar dapat menjawab dengan benar dan mungkin tidak tahu membuktikannya dalam pengalaman. Lawan apriori adalah a posteriori, yakni pengetahuan yang dilandasi atas pengalaman.Epistemologi  berkaitan erat dengan teori kebenaran:1.      Teori Kebenaran Koherensi: suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat kohenren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Misalnya paragraf sebuah tulisan yang bersifat menjelaskan paragraf sebelumnya maka tulisan tersebut dianggap koheren.2.      Teori Kebenaran Korespondensi: suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana materi pengetahuan yang dikandung dalam pernyataan itu berkorespondensi atau berhubungan dengan objek atau fakta yang diacu oleh pernyataan tersebut.3.      Teori Kebenaran Pragmatis: Suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia. (Suriasumantri dalam Kaelan, 1998: 14) Ø  Logika. Logika adalah studi tentang inference-inference atau kesimpulan-kesimpulan. Cabang filsafat ini berusaha menciptakan suatu kriteria guna memisahlan inferensi yang sahih dari yang tidak sahih. Oleh karena penalaran terjadi melalui bahasa, bahasa yang mengungkapkan melalui pernyataan-pernyataan. Pernyataan itu dikenal sebagai premis-premis. Ada premis mayor ada premis minor. Berdasarkan premis ditariklah suatu kesimpulan atau konklusi. Bila salah satu premis salah maka konklusi akan tidak sahih.Untuk menarik suatu simpulan, manusia harus melakukan suatu proses berpikir. Kegiatan ini sama dengan bernalar, yakni mempertimbangkan aturan-aturan atau hukum-hukum. Dalam istilah Plato dan Aristoteles berpikir adalah berbicara di dalam batin, mempertimbangkan, menganalisis, membuktikan sesuatu, menarik suatu kesimpulan adalah merupakan sebagian kegiatan berpikir manusia (Poespoprodjo dalam Kaelan, 1998: 17).

  1. Dua aliran dalam filsafat yang memandang bahasa.

Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa para filosof  terbagi 2 dalam memandang kerumitan yang terjadi dalam dunia filsafat. Aliran pertama, adalah kelompok filsuf yang mengatakan bahwa sumber persoalan sehingga masalah dalam filsafat tidak pernah habis karena BAHASA MEMILIKI BANYAK KELEMAHAN, tidak mampu membawa atau mengeksplisitkan ide-ide para filosof. Bahasa itu inexplicitness, vagueness, ambiguous, misleading, dan context dependence. Tokoh dalam kelompok ini adalah Leibniz, Russel, Carnap, Schlick, dan Reichenbach. Aliran mereka disebut Empirisme Logis atau Positivisme Logis. Mereka sangat menganggap penting pengalaman bahasa yang ada sehingga disebut empiris; dan karena menerapkan logika formal maka disebut logis.   Tujuan kelompok ini adalah membersihkan filsafat dari apa yang mereka sebut spekulasi metafisik.Filsuf Aliran Empirisme Logis menciptakan kaidah-kaidah bahasa berdasarkan pemeriksaan dan pemikiran yang ada pada ilmu matematika dan fisika, selain itu mereka juga menciptakan bahasa tiruan dengan batasan-batasan yang cukup untuk menghindarkan ekspresi metafisik. Ada tiga hal yang ingin mereka capai dalam logika formal, yakni (a) untuk mengatakan apa sebetulnya kebenaran matematik, faedah dari program ini adalah pengadaan program dalam filsafat matematika; (b) untuk menformulasikan hubungan antara statement S dengan statement-statement yang menggambarkan hasil pengamatan terhadap alam, kalau S memiliki arti. Faedah kegiatan ini, adalah usaha menyediakan instrumen untuk filsafat ilmu alam, untuk memeriksa dapat dan tidaknya seseuatu prinsip ilmu alam dikaji dengan sesuatu tes; dan (c) untuk menciptakan konvensi linguistik yang kemudian dipakai untuk mengenali dan mencegah timbulnya statement metafisik. Faedah kegiatan ini mengusahakan timbulnya sesuatu bahasa tiruan yang ideal yang memiliki kaidah sintaktik dan semantiknya tidak membolehkan munculnya butir-butir metafisik. Menurut Carnap, spekulasi metafisik terjadi bukan karena lalai dalam konvensi linguistik tetapi karena konvensi itu memang tidak ada. Misalnya, apakah arti “Ali ialah pahit yang cekung”. Kalimat ini secara sintaktik tidak salah, tetapi tidak ada aturan semantik yang dapat dipakai untuk menjelaskan kesalahan ini. Argumentasi inilah yang menjadi dasar Carnap menciptakan logical syntax. Bukunya yang terkenal berjudul  The logical Syntax of Language. Aliran yang kedua, disebut  Ordinary Language Philosophy (Filsafat Bahasa Biasa). Kelompok ini beranggapan bahwa bahasa biasa cukup sesuai dengan maksud-maksud filsafat. Hanya filsuf menyalahgunakan istilah-istilah yang mengandung kepastian seperti “tahu”, “melihat”, “bebas”, “benar”, “sebab”. Istilah tersebut bukan hal asing dalam kehidupan sehari-hari, tetapi para filsuf sering “meninggalkan” penggunaan yang biasa dari istilah-istilah tersebut tanpa memberikan penjelasan sehingga istilah-istilah itu jatuh kedalam teka-teki yang tak dapat dipecahkan (Wittgenstein dalam Philosophical Investigation seperti yang dikutip Mustansyir,1988: 78-79). Pendapat tentang cukup memadainya bahasa biasa bagi maksud filsafat mendapat dukungan yang kuat dari filsuf Oxford seperti Gilbert Ryle dan Austin. Oleh karena kekaburan makna terjadi disebabkan oleh PEMAKAINYA, maka mereka menjelaskan kaidah dan patokan pemakaian yang mendasari tingkah laku bahasa orang-orang yang tidak menyalahgunakan kebebasan linguistik yang ada. Selain itu, pengikut Filsafat Bahasa Biasa memaparkan kaidah-kaidah yang sudah ada di dalam bahasa berdasarkan pemeriksaan dan laporan kekeliruan para metafisikus.DAFTAR BACAAN

Kaelan. 1998. Filsafat Bahasa: Masalah dan Perkembangannya. Yogyakarta: Paradigma.

Klemke (ed.). 1983. Contemporary Analytic and Linguistic Philosophies. New York: Prometheus Books.

Mustansyir, Rizal. 1988. Filsafat Bahasa: Aneka Masalah Arti dan Upaya Pemecahannya. Jakarta: Prima Karya.

Poedjosoedarmo, Soepomo. 2001. Filsafat Bahasa. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Suriasumantri, Jujun S. 1984. Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

February 21, 2008 Posted by | Bahasa, Filsafat, Language and Philosophy | Leave a comment

Aspek-aspek Budaya Dalam Komunikasi Bahasa

Aspek-aspek Budaya Dalam Komunikasi Bahasa
Oleh SOEHENDA ISKARBAHASA bukan hanya alat berinteraksi di antara anggota-anggota suatu komuniti semata-mata sebagaimana perkiraan anggapan umum selama ini, melainkan hakikatnya unsur yang pokok dari kebudayaan beserta ciri pembeda makhluk manusia untuk dinamai homo sapiens. Biarpun kelihatan sosok fisiknya menyerupai manusia bila afasia tak memiliki kecakapan mempraktikkan berbicara atau bertutur kata, ia adalah homo ferus menurut Carel Linnaeus, dirinya bertingkah seperti hewani. Dalam cerita-cerita fiktif berupa werewolf yang sedikit pun tak mengenal unsur peradaban.Demikian pula individu tidak secara spontan mampu berbahasa secara biologis, tetapi harus menempuh proses enkulturasi dalam kehidupan di lingkungan keluarga batih yang merupakan Gemeinshaft dan menjalani proses sosialisasi dalam paguyuban ‘Gesselschaft’ menurut kajian sosiolog F. Tonnies.Dari sudut telaah sosiolinguistik, ada keterkaitan yang erat antara masyarakat dan bahasa. Oleh karena itu, bagi bidang studi ini diakui eksistensi masyarakat bahasa ‘speech community’ yang sifatnya heterogen beserta masyarakat umumnya. Masyarakat yang dimaksudkan meliputi monolingualisme, bilingualisme, dan multilingualisme.Sementara itu sosiolinguistik berpandangan ada empat fokus yang sangat vital dan urgen berkaitan dengan masalah bahasa yaitu (1) komunikator, (2) komunikan yakni siapa saja yang berpartisipasi dalam komunikasi atau orang yang diajak berbicara, (3) situasi, dan (4) ragam atau variasi bahasa. Katakanlah keempat komponen ini menentukan suksesnya komunikasi berinteraksi menggunakan bahasa sebagai sarananya.Kontak budaya dalam kehidupan modern seperti yang kita alami sekarang ini telah membawa perubahan pada bahasa-bahasa yang hidup yaitu bahasa Indonesia beserta bahasa-bahasa daerah ‘vernacular languages’ di tanah air kita ini. Penulis ini pun sadar bahwa di sini kelihatan adanya keragaman budaya yang menjadi pendukung pelbagai kultur daerah sehingga perlu diintegrasikan pada kesatuan nasion Indonesia. Oleh karena itu, bahasa Indonesia menafikan separatisme, mengikat erat-erat persatuan nasionalisme yang telah diikrarkan tahun 2008.Keberhasilan nasion Indonesia bersatu padu oleh faktor bahasa nasionalnya merupakan anugerah Tuhan berkat anutan Pancasila terutama sila ketuhanan yang Maha Esa. Satu nasion, satu bahasa, satu tanah air, itulah Indonesia mutiara di khatulistiwa.Dari telaah komunikasi tampak adanya (1) komunikasi verbal yang terlihat pada proses encoding — transmisi informasi — decoding – feedback. Peristiwa ini ditemukan pada konsep bahasa language’. Sebab pada paralanguage berlaku (2) komunikasi non verbal yang bernama kinesics menurut linguis Ray L. Birdwhistell.**PROSES encoding aktivitas awal komunikator merumuskan isi informasinya ke dalam satu ragam bahasa lalu penyebaran pesan/ amanat/ informasi kepada komunikan untuk ditafsirkan sehingga isi informasi dimengerti. Akhirnya oleh komunikan direspons berupa jawaban yaitu umpan balik.Sementara itu pada komunikasi non verbal yang terdapat pada paralanguage telah ada kesepahaman pengertian antara komunikator dan komunikan mengenai isi informasinya sehingga jawabannya mengikuti kebiasaan saja. Komunikasi demikian muncul ketika seorang asing menyapa kenalannya dengan ucapannya How are you? Jawabannya, Fine. (Kabar baik) akan tetapi, dari hasil penelitiannya di polinesia, antropolog J.R. Firth menyebutkan bukan berita yang ditafsirkan orang sana melainkan kesehatan. Situasi ini mengingatkan penulis pada budaya orang Sunda saat berjumpa sapaannya, Kumaha da(r)amang (Bagaimana sehat-sehat?) Alhamdulillah da(r)amang (sehat-sehat). Jelaslah faktor budaya mendominasi komunikasi.Baik language maupun paralanguage menjalin hubungan yang erat, keduanya pun merupakan unsur dasar dari kebudayaan basic cultural traits.Kontak budaya menyebabkan adanya difusi atau penyebaran dari luar ke dalam. Terjadilah (1) difusi ekstern yaitu penyerapan kosakata asing oleh bahasa Indonesia yang mengubah bahasa ini ke arah modern. Dampaknya kelihatan kreativitas orang-orang Indonesia memadukan pelbagai unsur bahasa asing yang menjelma bentuk kata-kata baru sebagai inovasi: gerilyawan, ilmuwan, sejarawan; Pancasilais, agamis dll yang disebut kata hibrid(a) (2) Difusi intern timbul hubungan timbal balik mengenai penyerapan kosakata antara bahasa Indonesia seperti masuknya kata lugas, busana, pangan dll dari bahasa Jawa atau kata-kata nyeri, pakan, tahap, langka dari bahasa Sunda. Sebaliknya kata perhatian diserap perhatosan, kecuali perkebunan, pengairan sebagai kata Sunda.Akan tetapi, ekses dari difusi intern dampak negatif disebabkan oleh dominasi berlebihan dari bahasa daerah yang melahirkan interferensi yang secara gramatikal merugikan bahasa Indonesia. Penutur etnik Sunda sebagai bilingual/ dwibahawan secara sadar/tidak menggunakan unsur kesundaan, sekolahan, jalanan ketika bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia. Padahal cukup dengan sekolah, jalan bagi kosakata Indonesia. Demikian pula pemakaian awalan di-Sunda berbeda dengan awalan di-Indonesia. Kata kerja pasif berawalan di-Indonesia terbatas hanya boleh diikuti orang ketiga tunggal yaitu ia/dia misal diperiksa oleh polisi, oleh ia/dia. Ini bertentangan dengan awalan di-Sunda, dititah ku kuring/ disuruh oleh saya; bentuk kalimatnya tak ada dalam bahasa Indonesia. Fenomena tumpang tindih ‘overlaping’ semacam ini luput dari kesadaran atau perhatian dwibahasawan etnik Sunda.Untuk lebih memperhatikan adanya pertalian aspek-aspek budaya dalam komunikasi verbal, marilah selayang pandang menyimak buah pikiran Wilhelm von Humboldt tentang relativitas bahasa yang kelak membentuk kerangka pikiran bagi Edward Sapir dan Benyamin Lee Whorf. Menurut von Humboldt, bahasa itu adalah aktivitas rokhani, proses kejiwaan yang berulang-ulang untuk membentuk ide/gagasan dengan mengeluarkan bunyi artikulasi. Setiap bahasa mencerminkan lambang jiwa, tabiat, sifat suatu bangsa itu. Hal ini menimbulkan keragaman bahasa dan perbedaannya. Teorinya ini mengandung konsep dasar, bahasa milik suatu bangsa menentukan pandangannya terhadap dunia dan lingkungan sekitarnya melalui kategori gramatikal dan klasifikasi semantik yang mungkin ada dalam bahasa yang diwarisinya bersama-sama dengan kebudayaannya. Fungsi bahasa yang utama adalah alat untuk berpikir dan berlaku pada setiap bangsa.** MELALUI interdisipliner antropolinguistik, ditegaskan bahwa sistem nilai budaya Indonesia mempunyai pengaruh yang besar atas penggunaan kata ganti orang atau pronominanya. Sesuai dengan teori komunikasi, komunikator dan komunikan komitmen dalam hubungan simetris atau hubungan asimetris. Terjadinya hubungan simetris karena ada kesamaan status sosial, perbedaan mengakibatkan kehadiran asimetris.Pronomina ketiga tunggal ia/dia berlaku dalam hubungan simetris, namun kata beliau yang fungsinya sama dengan ia/dia hanya dipakai untuk asimetris sehubungan nilai budaya hormat. Kata beliau diperuntukkan terhadap dia yang status sosialnya tinggi: Baru-baru ini Presiden SBY mengunjungi kedua SD Negeri. (1) Ia sempat mengajar anak-anak. (2) Beliau sempat mengajar anak-anak. Kalimat (1) diucapkan oleh orang yang baru belajar.Walaupun pronomina I saya, aku bersinonim, dalam praktik aplikasinya berbeda. Sebab timbul hubungan simetris/asimetris terhadap pronomina saya, “Permisi, Pak, saya akan membezuk anak sedang sakit,” kata pegawai kepada atasannya. “Aku tak sanggup menyelesaikan soal akhir, Bu” ujar siswa kelas 3 SMA kepada gurunya, tidak tahu adat, menganggap dirinya setaraf.Pronomina kami mempunyai arti (a) komunikator jamak seperti “Ayah, ibu, adik tergabung menjadi Kami bertiga akan berpiknik; (b)sama dengan makna saya ialah honorifiks mayestatis. Biasanya komunikator bertindak sebagai ketua/ wakil ketua/ pemimpin/ kepala misal “Kami (=saya) mengucapkan selamat atas kehadiran bapak/ibu,” kata direktur SMA. Tetangga berujar, “Kami tidak mengizinkan ibumu lewat sini.” Salah penggunaannya pada pronomina kita terlibat komunikator beserta komunikan hubungannya simetris, marilah kita bersikap dewasa,” kata ayahnya membujuk anaknya. Khusus untuk pronomina jamak kami tidak melibatkan komunikan hanya jumlah komunikator banyak.Uraian beserta pembahasan tentang pronomina tersebut mencerminkan sistem nilai budaya Indonesia yang melatarbelakangi komunikasi bahasa Indonesia.***

February 21, 2008 Posted by | Uncategorized | 1 Comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

February 21, 2008 Posted by | Uncategorized | 1 Comment