Sastradaerahunhas’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Aspek-aspek Budaya Dalam Komunikasi Bahasa

Aspek-aspek Budaya Dalam Komunikasi Bahasa
Oleh SOEHENDA ISKARBAHASA bukan hanya alat berinteraksi di antara anggota-anggota suatu komuniti semata-mata sebagaimana perkiraan anggapan umum selama ini, melainkan hakikatnya unsur yang pokok dari kebudayaan beserta ciri pembeda makhluk manusia untuk dinamai homo sapiens. Biarpun kelihatan sosok fisiknya menyerupai manusia bila afasia tak memiliki kecakapan mempraktikkan berbicara atau bertutur kata, ia adalah homo ferus menurut Carel Linnaeus, dirinya bertingkah seperti hewani. Dalam cerita-cerita fiktif berupa werewolf yang sedikit pun tak mengenal unsur peradaban.Demikian pula individu tidak secara spontan mampu berbahasa secara biologis, tetapi harus menempuh proses enkulturasi dalam kehidupan di lingkungan keluarga batih yang merupakan Gemeinshaft dan menjalani proses sosialisasi dalam paguyuban ‘Gesselschaft’ menurut kajian sosiolog F. Tonnies.Dari sudut telaah sosiolinguistik, ada keterkaitan yang erat antara masyarakat dan bahasa. Oleh karena itu, bagi bidang studi ini diakui eksistensi masyarakat bahasa ‘speech community’ yang sifatnya heterogen beserta masyarakat umumnya. Masyarakat yang dimaksudkan meliputi monolingualisme, bilingualisme, dan multilingualisme.Sementara itu sosiolinguistik berpandangan ada empat fokus yang sangat vital dan urgen berkaitan dengan masalah bahasa yaitu (1) komunikator, (2) komunikan yakni siapa saja yang berpartisipasi dalam komunikasi atau orang yang diajak berbicara, (3) situasi, dan (4) ragam atau variasi bahasa. Katakanlah keempat komponen ini menentukan suksesnya komunikasi berinteraksi menggunakan bahasa sebagai sarananya.Kontak budaya dalam kehidupan modern seperti yang kita alami sekarang ini telah membawa perubahan pada bahasa-bahasa yang hidup yaitu bahasa Indonesia beserta bahasa-bahasa daerah ‘vernacular languages’ di tanah air kita ini. Penulis ini pun sadar bahwa di sini kelihatan adanya keragaman budaya yang menjadi pendukung pelbagai kultur daerah sehingga perlu diintegrasikan pada kesatuan nasion Indonesia. Oleh karena itu, bahasa Indonesia menafikan separatisme, mengikat erat-erat persatuan nasionalisme yang telah diikrarkan tahun 2008.Keberhasilan nasion Indonesia bersatu padu oleh faktor bahasa nasionalnya merupakan anugerah Tuhan berkat anutan Pancasila terutama sila ketuhanan yang Maha Esa. Satu nasion, satu bahasa, satu tanah air, itulah Indonesia mutiara di khatulistiwa.Dari telaah komunikasi tampak adanya (1) komunikasi verbal yang terlihat pada proses encoding — transmisi informasi — decoding – feedback. Peristiwa ini ditemukan pada konsep bahasa language’. Sebab pada paralanguage berlaku (2) komunikasi non verbal yang bernama kinesics menurut linguis Ray L. Birdwhistell.**PROSES encoding aktivitas awal komunikator merumuskan isi informasinya ke dalam satu ragam bahasa lalu penyebaran pesan/ amanat/ informasi kepada komunikan untuk ditafsirkan sehingga isi informasi dimengerti. Akhirnya oleh komunikan direspons berupa jawaban yaitu umpan balik.Sementara itu pada komunikasi non verbal yang terdapat pada paralanguage telah ada kesepahaman pengertian antara komunikator dan komunikan mengenai isi informasinya sehingga jawabannya mengikuti kebiasaan saja. Komunikasi demikian muncul ketika seorang asing menyapa kenalannya dengan ucapannya How are you? Jawabannya, Fine. (Kabar baik) akan tetapi, dari hasil penelitiannya di polinesia, antropolog J.R. Firth menyebutkan bukan berita yang ditafsirkan orang sana melainkan kesehatan. Situasi ini mengingatkan penulis pada budaya orang Sunda saat berjumpa sapaannya, Kumaha da(r)amang (Bagaimana sehat-sehat?) Alhamdulillah da(r)amang (sehat-sehat). Jelaslah faktor budaya mendominasi komunikasi.Baik language maupun paralanguage menjalin hubungan yang erat, keduanya pun merupakan unsur dasar dari kebudayaan basic cultural traits.Kontak budaya menyebabkan adanya difusi atau penyebaran dari luar ke dalam. Terjadilah (1) difusi ekstern yaitu penyerapan kosakata asing oleh bahasa Indonesia yang mengubah bahasa ini ke arah modern. Dampaknya kelihatan kreativitas orang-orang Indonesia memadukan pelbagai unsur bahasa asing yang menjelma bentuk kata-kata baru sebagai inovasi: gerilyawan, ilmuwan, sejarawan; Pancasilais, agamis dll yang disebut kata hibrid(a) (2) Difusi intern timbul hubungan timbal balik mengenai penyerapan kosakata antara bahasa Indonesia seperti masuknya kata lugas, busana, pangan dll dari bahasa Jawa atau kata-kata nyeri, pakan, tahap, langka dari bahasa Sunda. Sebaliknya kata perhatian diserap perhatosan, kecuali perkebunan, pengairan sebagai kata Sunda.Akan tetapi, ekses dari difusi intern dampak negatif disebabkan oleh dominasi berlebihan dari bahasa daerah yang melahirkan interferensi yang secara gramatikal merugikan bahasa Indonesia. Penutur etnik Sunda sebagai bilingual/ dwibahawan secara sadar/tidak menggunakan unsur kesundaan, sekolahan, jalanan ketika bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia. Padahal cukup dengan sekolah, jalan bagi kosakata Indonesia. Demikian pula pemakaian awalan di-Sunda berbeda dengan awalan di-Indonesia. Kata kerja pasif berawalan di-Indonesia terbatas hanya boleh diikuti orang ketiga tunggal yaitu ia/dia misal diperiksa oleh polisi, oleh ia/dia. Ini bertentangan dengan awalan di-Sunda, dititah ku kuring/ disuruh oleh saya; bentuk kalimatnya tak ada dalam bahasa Indonesia. Fenomena tumpang tindih ‘overlaping’ semacam ini luput dari kesadaran atau perhatian dwibahasawan etnik Sunda.Untuk lebih memperhatikan adanya pertalian aspek-aspek budaya dalam komunikasi verbal, marilah selayang pandang menyimak buah pikiran Wilhelm von Humboldt tentang relativitas bahasa yang kelak membentuk kerangka pikiran bagi Edward Sapir dan Benyamin Lee Whorf. Menurut von Humboldt, bahasa itu adalah aktivitas rokhani, proses kejiwaan yang berulang-ulang untuk membentuk ide/gagasan dengan mengeluarkan bunyi artikulasi. Setiap bahasa mencerminkan lambang jiwa, tabiat, sifat suatu bangsa itu. Hal ini menimbulkan keragaman bahasa dan perbedaannya. Teorinya ini mengandung konsep dasar, bahasa milik suatu bangsa menentukan pandangannya terhadap dunia dan lingkungan sekitarnya melalui kategori gramatikal dan klasifikasi semantik yang mungkin ada dalam bahasa yang diwarisinya bersama-sama dengan kebudayaannya. Fungsi bahasa yang utama adalah alat untuk berpikir dan berlaku pada setiap bangsa.** MELALUI interdisipliner antropolinguistik, ditegaskan bahwa sistem nilai budaya Indonesia mempunyai pengaruh yang besar atas penggunaan kata ganti orang atau pronominanya. Sesuai dengan teori komunikasi, komunikator dan komunikan komitmen dalam hubungan simetris atau hubungan asimetris. Terjadinya hubungan simetris karena ada kesamaan status sosial, perbedaan mengakibatkan kehadiran asimetris.Pronomina ketiga tunggal ia/dia berlaku dalam hubungan simetris, namun kata beliau yang fungsinya sama dengan ia/dia hanya dipakai untuk asimetris sehubungan nilai budaya hormat. Kata beliau diperuntukkan terhadap dia yang status sosialnya tinggi: Baru-baru ini Presiden SBY mengunjungi kedua SD Negeri. (1) Ia sempat mengajar anak-anak. (2) Beliau sempat mengajar anak-anak. Kalimat (1) diucapkan oleh orang yang baru belajar.Walaupun pronomina I saya, aku bersinonim, dalam praktik aplikasinya berbeda. Sebab timbul hubungan simetris/asimetris terhadap pronomina saya, “Permisi, Pak, saya akan membezuk anak sedang sakit,” kata pegawai kepada atasannya. “Aku tak sanggup menyelesaikan soal akhir, Bu” ujar siswa kelas 3 SMA kepada gurunya, tidak tahu adat, menganggap dirinya setaraf.Pronomina kami mempunyai arti (a) komunikator jamak seperti “Ayah, ibu, adik tergabung menjadi Kami bertiga akan berpiknik; (b)sama dengan makna saya ialah honorifiks mayestatis. Biasanya komunikator bertindak sebagai ketua/ wakil ketua/ pemimpin/ kepala misal “Kami (=saya) mengucapkan selamat atas kehadiran bapak/ibu,” kata direktur SMA. Tetangga berujar, “Kami tidak mengizinkan ibumu lewat sini.” Salah penggunaannya pada pronomina kita terlibat komunikator beserta komunikan hubungannya simetris, marilah kita bersikap dewasa,” kata ayahnya membujuk anaknya. Khusus untuk pronomina jamak kami tidak melibatkan komunikan hanya jumlah komunikator banyak.Uraian beserta pembahasan tentang pronomina tersebut mencerminkan sistem nilai budaya Indonesia yang melatarbelakangi komunikasi bahasa Indonesia.***

February 21, 2008 - Posted by | Uncategorized

1 Comment »

  1. […] Aspek-aspek Budaya Dalam Komunikasi Bahasa « Sastradaerahunhas’s Weblog Aspek-aspek Budaya Dalam Komunikasi Bahasa « Sastradaerahunhas’s Weblog […]

    Pingback by Aspek-aspek Budaya Dalam Komunikasi Bahasa « Sastradaerahunhas’s Weblog « Sastradaerahunhas’s Weblog | February 21, 2008 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: