Sastradaerahunhas’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Filsafat Bahasa, oleh Gusnawaty Sastra Daerah UNHAS, Makassar Indonesia

 

  1. Hubungan antara Filsafat dan Bahasa.

 Filsafat adalah suatu cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Oleh karena sifat filsafat yang demikian maka filsafat sering diidentikkan dengan sesuatu yang membingungkan. Kadang kita mendengarkan orang mengatakan “Jawaban yang Anda ajukan benar-benar filosofis dan mengandung kedalaman arti, sehingga saya tidak memahami sedikit pun apa yang Anda maksud”Pitcher dalam buku “The Philosophy of Wittgenstein” halaman 193, mengibaratkan filosofis yang terlibat dalam upaya pemecahan masalah-masalah fundamental sebagai “seseorang yang terperangkap dalam kekacauan filsafati tak ubahnya dengan orang yang terjebak dalam sebuah ruangan, ia ingin keluar dari sana tapi tidak tahu bagaimana caranya. Dicobanya keluar melalui jendela tapi itu terlalu tinggi. Dicobanya pula keluar melalui cerobong tapi terlalu sempit” (Mustansyir, 1988: 11).Persoalan yang tak ada habisnya dalam dunia filsafat membuat para filosofis mencari akar permasalahan. Dalam memandang masalah, mereka, menganggap bahwa akar masalah sebenarnya terletak pada bahasa. Beberapa filsuf seperti Carnap, Russel, dan Leibniz berpendapat bahwa kebenaran tidak dapat dapat dideskripsikan dengan benar karena kelemahan ada pada bahasa. Bahasa tidak dapat mejelaskan sesuatu secara tepat dan akurat. Seperti kata keadilan, apa itu keadilan? Bagaimana mengukur keadilan?; Kata cantik misalnya, apa itu cantik?  Model yang bagaimana yang disebut cantik? Apa parameternya. Bagaimana mengukurnya. Dan lain sebagainya. Bahasa tidak cukup memadai dalam mengungkapkan maksud-maksud filsafat (inadequate). Sebab bahasa mengandung kekaburan (vagueness), tidak jelas (inexplictness), berdwiarti (ambiguity), terikat konteks (contex-dependence), dan menyesatkan (misleading). Keompok filosofis lain seperti Wittgenstein dan Locke justru berpendapat sebaliknya, mereka menganggap bahwa yang membuat sesuatu rumit dan selalu membingungkan karena para filosofis keliru dalam merumuskan persoalan. Dengan kata lain, kelemahan ada pada pemakai bahasa.  Berdasarkan hal tersebut maka lahirlah Filsafat Analitik. Para yang filosofis yang menaruh minat dalam bahasa digerakkan oleh keinginian mereka untuk memahami ilmu pengetahuan konseptual. Mereka, dalam mempelajari bahasa, bukan sebagai tujuan akhir melainkan sebagai objek sementara agar pada akhirnya dapat diperoleh kejelasan tentang hakikat pengetahuan konseptual.

  1. Cabang filsafat yang erat hubungannya dengan bahasa

Menyadari bahwa bahasa dan pengetahuan kebahasaan sebagai kunci dalam membuka tabir kegelapan, maka dalam filsafat lahirlah cabang yang khusus memperhatikan masalah kebahasaan  yakni: metafisika, logika, dan epistemologi.Ø  Metafisika. Kata metafisika berasal dari bahasa Yunani: ta meta ta Physika yang artinya, dibelakang atau dibalik atau sesudah sesuatu yang bersifat fisik. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh Andronicus, orang yang bertugas mengumpulkan karya tulis Aristoteles pada tahun 70 SM. Pelopor cabang filsafat ini adalah Plato dan Aristoteles. Metafisika didefinisikan sebagai sesuatu bagian filsafat yang secara garis besar mencoba merumuskan  fakta-fakta yang paling umum dan luas tentang dunia, termasuk penyebutan kategori  yang paling dasar sehingga entitas dan penggambaran interrelasi di antara mereka juga termasuk. Aristoteles berkata, bila seseorang bertanya apa yang dimaksud dengan kata-kata ‘berjalan’, dan ‘duduk’, itu menunjukkan bahwa hal itu memang ada. Kata-kata tersebut tak sanggup mendukung dirinya sendiri. Mereka membutuhkan substansi atau individual. Beliau berpendapat bahwa kata kerja digunakan dalam hubungannya dengan subjek. Jadi ‘ia sedang duduk’ atau ‘dia berjalan’ yang benar, tidak boleh langsung kata ‘duduk’ atau ‘berjalan’ saja. Berdasarkan temuan tersebut, Aristoteles berpendapat bahwa benda memiliki keberadaan lebih bebas dibanding kata kerja, karena kita menggunakan kata kerja dalam hubungannya dengan subjek.Ada hal yang menarik dari Wittgenstein, menurutnya metafisika melampaui batas-batas bahasa. Metafisika mengatakan apa yang tidak dapat dikatakan. Namun ada memang ha-hal yang tidak dapat dikatakan seperti hal-hal yang bersifat mistis dan sesuatu yang melampaui batas-batas bahasa seperti subjek, kematian, Allah, dan bahasa sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan upaya-upaya secara analitik melalui bahasa untuk membuat eksplisit tentang pertanyaan-pertanyaan metafisis tersebut White (1987 dalam Kaelan, 1998: 11). Kemudian dalam buku tersebut dijelaskan pula bahwa tentang konsep Aristoteles yang 10 kategori yang meliputi substansia dan 9 aksidensia, tergantung dan terlekat pada substansi yang meliputi:                                                              i.      Kuantitas (unsur fisis meliputi luas, bentuk dan berat)                                                            ii.      Kualitas (sifat-sifat yang dapat ditangkap dengan indera)                                                          iii.      Aksi (yang menyangkut perubahan, dinamika)                                                          iv.      Passi (penerimaan perubahan yang dikaitkan dengan benda lainnnya)                                                            v.      Relasi (hubungan dengan sesuatu yang lainnya)                                                          vi.      Tempat (segala sesuatu mengambil ruangan)                                                        vii.      Waktu (segala sesuatu berada dalam waktu tertentu)                                                      viii.      Keadaan, ( sesuatu berada pada tempatnya) dan                                                          ix.      Kedudukan (sesuatu berada disamping yang lainnya)Ø  Epistemologi. Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal-usul, struktur, metode-metode, dan keabsaham ilmu pengetahuan. Ruang lingkup definisi ini menunjukkan bahwa bidang ini berkenaan dengan cara-cara memperoleh ilmu pengetahuan. Ada 2 golongan filsuf dalam hal metode memperoleh ilmu pengetahuan: a) golongan yang pertama percaya bahwa ilmu itu diperoleh berdasarkan pengamatan atas pengalaman. Kelompok ini disebut kelompok empirisme, dan mendasarkan diri pada metode induktif, dan b) golongan kedua yang percaya penuh pada kemampuan akal atau rasio sebagai satu-satunya sarana dan yang paling memadai dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Kelompok ini lebih mendasarkan diri pada metode deduktif – bertitiktolak dari pengertian yang bersifat umum untuk memperoleh pengetahuan khusus. Cabang filsafat ini yang berkaitan dengan bahasa  terutama dalam hal pengetahuan apriori: yakni pengetahuan yang diperoleh atas dasar dugaan semata tanpa didukung pengalaman. Misalnya 2x 2 = 4. Anak kecil yang sudah diajari perkalian dasar dapat menjawab dengan benar dan mungkin tidak tahu membuktikannya dalam pengalaman. Lawan apriori adalah a posteriori, yakni pengetahuan yang dilandasi atas pengalaman.Epistemologi  berkaitan erat dengan teori kebenaran:1.      Teori Kebenaran Koherensi: suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat kohenren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Misalnya paragraf sebuah tulisan yang bersifat menjelaskan paragraf sebelumnya maka tulisan tersebut dianggap koheren.2.      Teori Kebenaran Korespondensi: suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana materi pengetahuan yang dikandung dalam pernyataan itu berkorespondensi atau berhubungan dengan objek atau fakta yang diacu oleh pernyataan tersebut.3.      Teori Kebenaran Pragmatis: Suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia. (Suriasumantri dalam Kaelan, 1998: 14) Ø  Logika. Logika adalah studi tentang inference-inference atau kesimpulan-kesimpulan. Cabang filsafat ini berusaha menciptakan suatu kriteria guna memisahlan inferensi yang sahih dari yang tidak sahih. Oleh karena penalaran terjadi melalui bahasa, bahasa yang mengungkapkan melalui pernyataan-pernyataan. Pernyataan itu dikenal sebagai premis-premis. Ada premis mayor ada premis minor. Berdasarkan premis ditariklah suatu kesimpulan atau konklusi. Bila salah satu premis salah maka konklusi akan tidak sahih.Untuk menarik suatu simpulan, manusia harus melakukan suatu proses berpikir. Kegiatan ini sama dengan bernalar, yakni mempertimbangkan aturan-aturan atau hukum-hukum. Dalam istilah Plato dan Aristoteles berpikir adalah berbicara di dalam batin, mempertimbangkan, menganalisis, membuktikan sesuatu, menarik suatu kesimpulan adalah merupakan sebagian kegiatan berpikir manusia (Poespoprodjo dalam Kaelan, 1998: 17).

  1. Dua aliran dalam filsafat yang memandang bahasa.

Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa para filosof  terbagi 2 dalam memandang kerumitan yang terjadi dalam dunia filsafat. Aliran pertama, adalah kelompok filsuf yang mengatakan bahwa sumber persoalan sehingga masalah dalam filsafat tidak pernah habis karena BAHASA MEMILIKI BANYAK KELEMAHAN, tidak mampu membawa atau mengeksplisitkan ide-ide para filosof. Bahasa itu inexplicitness, vagueness, ambiguous, misleading, dan context dependence. Tokoh dalam kelompok ini adalah Leibniz, Russel, Carnap, Schlick, dan Reichenbach. Aliran mereka disebut Empirisme Logis atau Positivisme Logis. Mereka sangat menganggap penting pengalaman bahasa yang ada sehingga disebut empiris; dan karena menerapkan logika formal maka disebut logis.   Tujuan kelompok ini adalah membersihkan filsafat dari apa yang mereka sebut spekulasi metafisik.Filsuf Aliran Empirisme Logis menciptakan kaidah-kaidah bahasa berdasarkan pemeriksaan dan pemikiran yang ada pada ilmu matematika dan fisika, selain itu mereka juga menciptakan bahasa tiruan dengan batasan-batasan yang cukup untuk menghindarkan ekspresi metafisik. Ada tiga hal yang ingin mereka capai dalam logika formal, yakni (a) untuk mengatakan apa sebetulnya kebenaran matematik, faedah dari program ini adalah pengadaan program dalam filsafat matematika; (b) untuk menformulasikan hubungan antara statement S dengan statement-statement yang menggambarkan hasil pengamatan terhadap alam, kalau S memiliki arti. Faedah kegiatan ini, adalah usaha menyediakan instrumen untuk filsafat ilmu alam, untuk memeriksa dapat dan tidaknya seseuatu prinsip ilmu alam dikaji dengan sesuatu tes; dan (c) untuk menciptakan konvensi linguistik yang kemudian dipakai untuk mengenali dan mencegah timbulnya statement metafisik. Faedah kegiatan ini mengusahakan timbulnya sesuatu bahasa tiruan yang ideal yang memiliki kaidah sintaktik dan semantiknya tidak membolehkan munculnya butir-butir metafisik. Menurut Carnap, spekulasi metafisik terjadi bukan karena lalai dalam konvensi linguistik tetapi karena konvensi itu memang tidak ada. Misalnya, apakah arti “Ali ialah pahit yang cekung”. Kalimat ini secara sintaktik tidak salah, tetapi tidak ada aturan semantik yang dapat dipakai untuk menjelaskan kesalahan ini. Argumentasi inilah yang menjadi dasar Carnap menciptakan logical syntax. Bukunya yang terkenal berjudul  The logical Syntax of Language. Aliran yang kedua, disebut  Ordinary Language Philosophy (Filsafat Bahasa Biasa). Kelompok ini beranggapan bahwa bahasa biasa cukup sesuai dengan maksud-maksud filsafat. Hanya filsuf menyalahgunakan istilah-istilah yang mengandung kepastian seperti “tahu”, “melihat”, “bebas”, “benar”, “sebab”. Istilah tersebut bukan hal asing dalam kehidupan sehari-hari, tetapi para filsuf sering “meninggalkan” penggunaan yang biasa dari istilah-istilah tersebut tanpa memberikan penjelasan sehingga istilah-istilah itu jatuh kedalam teka-teki yang tak dapat dipecahkan (Wittgenstein dalam Philosophical Investigation seperti yang dikutip Mustansyir,1988: 78-79). Pendapat tentang cukup memadainya bahasa biasa bagi maksud filsafat mendapat dukungan yang kuat dari filsuf Oxford seperti Gilbert Ryle dan Austin. Oleh karena kekaburan makna terjadi disebabkan oleh PEMAKAINYA, maka mereka menjelaskan kaidah dan patokan pemakaian yang mendasari tingkah laku bahasa orang-orang yang tidak menyalahgunakan kebebasan linguistik yang ada. Selain itu, pengikut Filsafat Bahasa Biasa memaparkan kaidah-kaidah yang sudah ada di dalam bahasa berdasarkan pemeriksaan dan laporan kekeliruan para metafisikus.DAFTAR BACAAN

Kaelan. 1998. Filsafat Bahasa: Masalah dan Perkembangannya. Yogyakarta: Paradigma.

Klemke (ed.). 1983. Contemporary Analytic and Linguistic Philosophies. New York: Prometheus Books.

Mustansyir, Rizal. 1988. Filsafat Bahasa: Aneka Masalah Arti dan Upaya Pemecahannya. Jakarta: Prima Karya.

Poedjosoedarmo, Soepomo. 2001. Filsafat Bahasa. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Suriasumantri, Jujun S. 1984. Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

February 21, 2008 - Posted by | Bahasa, Filsafat, Language and Philosophy

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: